Tentang

Dialita

Lahirnya Dialita

Paduan Suara DIALITA dibentuk dan dibangun oleh sekelompok perempuan penyintas tahanan politik 1965 dan keluarganya yang tergabung di dalam Komunitas Peduli Ibu dan Anak (KPIA). Pembentukan paduan suara ini awalnya dimaksudkan untuk menggalang dana bagi sesama penyintas 1965 usia lanjut yang memerlukan bantuan, utamanya bagi para lansia yang sakit atau yang mengalami musibah.

Pada awalnya KPIA -- yang anggotanya gemar bernyanyi dan beberapa di antaranya pernah bergabung dalam Ansambel Tari dan Nyanyi “Gembira” (ansambel yang populer sebelum 1965 dan dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat) melakukan pengumpulan dana dengan menjual baju-baju dan barang-barang bekas. Tetapi kegiatan ini tidak bisa menghasilkan banyak uang. Lalu secara spontan, muncullah ide membentuk vocal group untuk mencari tambahan dana dan, mengingat anggotanya rata-rata sudah berumur lebih dari 50 tahun, maka secara spontan pula tercetuslah nama DIALITA (di atas lima puluh tahun). Ide ini muncul pada tanggal 4 Desember 2011, pada saat KPIA menjual barang-barang bekas di sebuah kampung kecil di daerah Bogor, Jawa Barat. Maka tanggal 4 Desember 2011 ditetapkan sebagai hari lahir DIALITA.

“Kelahiran” DIALITA ini kemudian didengar oleh beberapa aktivis perempuan yang kemudian membantu mempromosikan ke kelompok-kelompok atau NGO-NGO yang menyelenggarakan acara-acara (diskusi, peluncuran buku, dsb.). Pada awalnya DIALITA menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu-lagu yang populer di telinga publik. Anggotanya pun baru 8-10 orang saja. Dengan tampil di acara-acara tersebut, DIALITA mendapat uang Rp 300.000, Rp 500.000 atau paling banyak Rp 700.000. Uang yang diperoleh itu biasanya langsung diantar atau dikirimkan kepada penyintas yang membutuhkan.

Dalam pada itu, jauh sebelum terbentuknya DIALITA, ada beberapa penyintas yang mengumpulkan lagu-lagu yang diciptakan di dalam penjara. Adalah Ibu Utati – seorang penyintas yang 10 tahun lamanya ditahan di penjara Bukitduri, Jakarta, salah satu yang berinisiatif mengumpulkan lagu-lagu tersebut. Di tahanan, Ibu Utati juga menciptakan beberapa lagu. Ia bersama 3-4 orang penyintas lainnya mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan akan lagu-lagu tersbut sejak tahun 2000. Ada sekitar 30an lagu yang terkumpul dari berbagai penjara, baik yang diciptakan oleh tahanan politik perempuan maupun laki-laki.

Awal tahun 2013, Institut Ungu – sebuah organisasi perempuan yang mengangkat isu-isu perempuan melalui medium seni dan budaya melakukan riset seputar kehidupan perempuan survivor 1965 untuk menyiapkan sebuah naskah drama. Institut Ungu yang mengetahui ibu-ibu penyintas memiliki lagu-lagu dari penjara pun mengajak DIALITA mengisi back sound untuk salah satu adegan dramanya dengan menyanyikan lagu “Salam Harapan”. Institut Ungu juga yang kala itu mendorong DIALITA untuk mulai menyanyikan lagu-lagu tersebut di depan publik dan berinisiatif akan membuat sebuah konser untuk DIALITA. Naskah drama yang digagas oleh Institut Ungu tersebut kemudian dipentaskan pada bulan Mei 2014 dengan judul “Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer”, sementara, karena berbagai kendala, konser DIALITA baru terwujud pada akhir tahun 2017.

Tempat Berkumpul Dan Memulihkan Diri Dari Trauma

Bagi para penyintas dan keluarganya, DIALITA dipandang sebagai tempat untuk bertemu dan berkumpul dengan kawan senasib yang memiliki latar belakang sejarah yang sama. DIALITA adalah anak-anak sejarah yang sepanjang hidupnya nyaris tak mendapat tempat dan kehilangan hak-haknya sebagai warga negara. Dengan berkumpul bersama “Keluarga dalam Sejarah” ini, tak ada keraguan dan rasa takut untuk menceritakan latar belakang keluarga dan masa lalu yang dihadapi. Tak perlu waktu terlalu lama, satu per satu ‘kawan senasib’ pun ikut bergabung menjadi anggota DIALITA. Jumlah anggota DIALITA yang tercatat ada 24 orang, namun yang aktif sekarang tak lebihd ari 20 orang.

Proses pemulihannya pun bertahap; pada awalnya banyak yang masih merasa ragu dan kuatir bila harus tampil di luar ruang (out door). Tapi setelah mengalami beberapa kali tampil di luar ruang dan aman, kekuatiran itu pun mulai berkurang, meskipun dalam situasi tertentu (seperti pada tahun politik sekarang ini), diperlukan kewaspadaan dan dialog dengan pihak pengundang, bahwa DIALITA perlu diyakinkan adanya ‘jaminan keamanan’.

Mulai Dikenal Dan Masuk Ke Ruang-Ruang Anak Muda

Dalam perjalanannya kemudian, DIALITA pun mulai menyanyikan lagu-lagu ‘yang dibungkam’ dan dilupakan, yang pernah poluler sebelum 1965. Ada banyak sekali lagu-lagu di era Soekarno yang dilarang dinyanyikan di masa Soeharto karena lagu-lagu tersebut dianggap lagu-lagu kiri, dan kiri berarti PKI. Padahal anggapan itu sama sekali tidak benar. Banyak lagu di masa itu yang mengangkat ‘kejayaan Indonesia’ sebagai negara penggagas dan pemimpin gerakan Asia-Afrika (Padi untuk India, Asia-Afrika Bersatu, Viva Ganefo, dsb.) dan banyak pula lagu-lagu yang diciptakan untuk mempromosikan dan mendukung program-program pemerintah.

Awal November 2015 DIALITA diundang tampil dalam acara pembukaan Biennale Jogja XIII Equator #3 yang mengangkat tema “Hacking Conflict – Indonesia meets Nigeria”. Ini untuk pertama kalinya DIALITA tampil di luar kota Jakarta, di depan anak-anak muda yang sebagian besar adalah seniman. Awalnya DIALITA ragu: “akankah DIALITA bisa menyentuh hati dan mencuri perhatian anak-anak muda ini dengan lagu-lagu ‘kuno’ yang belum pernah mereka dengar dan jauh dari selera mereka? Akankah DIALITA yang tampil berkebaya dengan sebagian besar anggotanya sudah seumur ibu – bahkan seusia nenek mereka bisa menyampaikan pesan yang terkandung di dalam lagu-lagu yang akan dibawakan? Apalagi dalam acara pembukaan.

Biennale ini, sebelum DIALITA tampil, panggung lebih dulu diisi oleh kelompok musik Senyawa yang membawakan lagu-lagu ‘keras’, heavy metal. Menjelang tampil, hampir semua ibu-ibu DIALITA nervous.

Diawali lagu Padi untuk India, lalu Asia-Afrika Bersatu dan terakhir Viva Ganefo; ternyata tepuk tangan bergemuruh panjang sekali. Bahkan anak-anak muda itu bisa mengikuti lagu Viva Ganefo dan berteriak “lagi, lagi, lagi!” DIALITA pun menutup tampilannya dengan menyanyikan satu lagu tambahan “Bangun Pemudi-Pemuda”, lagu Nasional yang menyemangati dan mengingatkan anak-anak muda sebagai pemimpin negara di masa depan.

Dari Biennale Lahir Album Pertama

Sebulan setelah tampil di panggung Biennale Jogja XIII, DIALITA mendapat tawaran untuk membuat album. Konsep yang ditawarkan adalah, DIALITA menyanyikan lagu-lagu dengan aransemen yang sudah ada dan biasa dibawakan, sementara musiknya digarap oleh musisi-musisi muda Jogjakarta. Dalam waktu yang relatif singkat, 10 lagu kemudian dipilih, direkam dan lahirlah album pertama DIALITA bertajuk “Dunia milik Kita” yang diproduksi oleh label.

YesNoWave, sebuah label terkemuka di Jogjakarta. Album ini diluncurkan di Universitas Sanata Dharma Jogjakarta dan dihadiri oleh 400an anak muda – sebagian besar pelajar dan mahasiswa.

Dari kedua penampilan DIALITA di depan anak-anak muda tersebut, banyak respon dan komentar positif yang patut dicatat. Sebagian besar menyatakan bahwa, setelah mendengar lagu-lagu DIALITA, anak-anak muda itu tergerak untuk mencari tahu lebih jauh tentang sejarah di masa lalu: sejarah lagu-lagu, sejarah yang melatari lahirnya lagu-lagu tersebut, sejarah para penciptanya, mengapa dibungkam dan dilarang, siapa sebenarnya para perempuan yang tergabung dalam paduan suara DIALITA, ada kisah apa di balik kehidupan para perempuan ini, apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1965, dst., dst.

Kini, di tahun kedelapan, DIALITA sudah tampil di berbagai tempat dengan audiens yang beragam, terutama di depan anak-anak muda. DIALITA tidak hanya bernyanyi, tetapi juga membawa cerita untuk anak-anak muda dan berdialog dengan mereka. Semangatnya telah menjadi inspirasi bagi beberapa mahasiswa untuk menulis skripsi, bagi para peneliti untuk melakukan riset, bagi media cetak dan online untuk menulis artikel, bagi televisi untuk membuat film pendek dan bagi seniman-seniman muda untuk melahirkan karya; di antaranya yang tercatat adalah: film “Rising from Silence” yang memperoleh penghargaan Piala Citra 2018 untuk katagori film dokumenter pendek dan “Lagu untuk Anakku” (masih dalam proses penggarapan), keduanya karya sutradara Shalahuddin Siregar; “Surat untuk Dialita” (digagas oleh mahasiswa Indonesia di Sydney - https://www.facebook.com/suratuntukdialita/); '1001 Martian Homes' karya Tintin Wulia yang menjadi tajuk Paviliun Indonesia di Venice Art Biennale 2017 - https://www.youtube.com/watch?v=nr-Fgt0nru-ZPw dan belum lama ini, desain artistik panggung karya Kartika Jahja dalam Konser Perempuan untuk Kemanusian tahun 2017 yang menampilkan karya-karya DIALITA menjadi bagian dalam sebuah pameran instalasi di Art Sonje Center, Korea Selatan https://www.dodooba.com/guide_details.php?ref_id=4700&feature_type=0; Program Refleksi DAAI TV: “Lewat Lagu Kami Bercerita” http://www.daaitv.co.id/DAAI-WP/2018/04/11/refleksi-lewat-lagu-kami-bercerita/ dan masih banyak lagi.

Gerak dan kegiatan DIALITA telah ditulis oleh belasan media lokal, nasional maupun asing. Melampaui harapan dan cita-cita awal berdirinya yang bermaksud menggalang dana bagi sesama penyintas, tanpa disadari DIALITA telah menjadi model dan spirit bagi para penyintas berbagai kasus, para pekerja kemanusiaan dan anak-anak muda: bahwa keindahan bisa lahir dari sebuah situasi penderitaan yang sunyi. Dalam situasi sesulit apa pun kita tetap bisa terus tegak dan saling menguatkan. Kita harus terus melangkah, membangun harapan, cinta dan kasih sayang kepada bangsa dan tanah air.

Kerja Bersama dengan Anak-anak Muda

Ada momen penting di mana DIALITA berhasil memproduksi dan merilis albumnya sendiri, yakni album kedua bertajuk “Salam Harapan”. Bekerjasama dengan Rumahbonita yang digawangi oleh pasangan penyanyi Bonita dan pemusik handal Petrus Briyanto Adi, untuk pertama kalinya DIALITA terlibat penuh di dalam menyusun konsep, memilih dan menentukan lagu-lagu yang akan direkam, mengelola manajemen, memimpin produksi, menyiapkan dan menyelenggarakan acara launching yang berlangsung baru-baru ini, akhir Januari 2019.

Proyek ini melibatkan tak kurang dari 30 orang, yang, sebagian besarnya adalah anak-anak muda: 6 penyanyi, 10 musisi, tim kreatif dan kru panggung, desainer grafis, tim media dan tim pendukung. Proses sangat berharga dari kerja bersama di dalam proyek ini adalah, sembari bekerja dan berkarya, sambil ‘mentransfer’ kepingan sejarah yang selama ini banyak anak muda maupun musisi muda mungkin belum mengerti. Terjadi ‘dialog lintas generasi’ dalam seluruh prosesnya. Hal ini diungkapkan oleh hampir semua musisi yang terlibat bahwa mereka senang, bangga serta bersuka-cita bisa terlibat dalam proyek ini karena mendapat pencerahan baru tentang sejarah yang selama ini masih menimbulkan pertanyaan.

Respon positif penonton/publik pun bisa diamati di sosial media, yang antara lain menulis:

  • “Perempuan - perempuan perkasa ini adalah para penyintas peristiwa 65. Pada usia belasan tahun mereka dijebloskan ke penjara dengan berbagai alasan atau bahkan tanpa alasan, ada yang dipenjara di Bukit Duri Jakarta, Plantungan Kendal atau Ambarawa. Kepada merekalah seharusnya kita belajar soal kemanusiaan, kegembiraan dan harapan.”
    (Dari dinding Facebook Beka Ulung Hapsara, Komisioner Komnas HAM);
  • “Jika kita simak baik-baik lirik lagunya, tak ada secercah pun nada amarah. Tak juga satu pun pilihan kata yang getir. Yang saya temukan dalam liriknya adalah kesaksian tentang optimisme, cinta, dan harapan. Mengingat situasi dan kondisi sang pencipta lagu dan sang penulis lirik saat menciptakan karya tersebut, bukankah fakta itu teramat dahsyat?”
    (Dari dinding Facebook Jane Ardaneshwari, 1 Februari 2019)
  • “Petang itu menemukan maknanya di antara kepingan masa lalu yang terserak dan masa depan yang direka. Antara pelaku sejarah dengan generasi yang lahir jauh sesudahnya. Antara orang-orang yang dicoba untuk dihapus dari sejarah atau dinarasi ulang, dengan mereka yang lahir belakangan untuk merawat ingatan.”
    “Petang itu, persahabatan diwartakan bersama dengan salam harapan: menjadikan Indonesia bermartabat, karena tidak ada lagi yang perlu dikorbankan hanya untuk kekuasaan.”
    (Dari dinding Facebook Helena Dewi Justicia, penonton, 1 Februari 2019)
  • Tiba-tiba ada suara di sebelahku berbisik, "Ma, sebenarnya kenapa sih orang-orang ini dipenjara?". Waduh, tiba juga saatnya harus menjelaskan hal yang pastinya tak terjelaskan dengan logika, pada anak usia 10 tahun. Betapa manusia bisa sangat kejam pada sesama, tapi ada yang bisa sangat mulia dalam menghargai kehidupan.
    Setiap pagelaran Paduan Suara Dialita adalah cermin untukku betapa kemanusiaan harus terus diperjuangkan. Tempat menyerap energi pengampunan dan membagikannya kembali pada setiap orang yang kau temui.
    Terima kasih Dialita, atas segala nilai dan teladan yang kau berikan.
    (Dari dinding Facebook Maria Anik Tunjung, 1 Februari 2019)

Mengutip tulisan Ruth Indiah Rahayu dari booklet kecil yang menyertai album kedua DIALITA: “Rekaman lagu-lagu karya dari penjara ini dimaksudkan sebagai pendokumentasian sejarah, agar tak punah. Maka seluruh daya upaya yang dikerjakan DIALITA ini sesungguhnya merupakan kerja kolektif para pekerja sejarah, yaitu mendokumentasi karya lagu dari masa lalu, membebaskan stigma yang dibelenggukan kepada penggubah dan karyanya, serta mewartakan karya itu ke hadapan masyarakat Indonesia yang sebagian besar buta terhadap sejarah kelam yang pernah dialami bangsa ini.”

Capaian-capaian:

  • Album pertama, “Dunia Milik Kita, Yes No Wave, 2016
  • Album Kedua, “Salam Harapan”, Dialita & Rumah Bonita, 2019
  • Gwangju Special Price for Human Rights dari The May 18th Foundation, Korea, 2019

Apresiasi untuk Album dan Film tentang Dialita:

Copyright 2020 | Lagu Untuk Anakku