Sinopsis

Setelah puluhan tahun hidup dalam ketakutan, di usia senjanya sekelompok ibu-ibu membentuk paduan suara. Mereka memberanikan diri menyanyi, menghidupkan harapan dan menyembuhkan trauma. Lagu apa yang mereka nyanyikan, dan apa yang terjadi ketika mereka menyanyi?

Mudji dan Utati termasuk dari ratusan ribu orang yang dipenjara tanpa pernah diadili, tanpa tahu apa salahnya. Mereka ditangkap ketika masih remaja, karena ikut paduan suara yang dianggap berhaluan kiri. Lebih dari 10 tahun mereka lewatkan di dalam tahanan tanpa pernah tahu kapan akan dibebaskan. Untuk menguatkan diri menghadapi masa-masa mencekam itu, mereka dan para tahanan lainnya menulis lagu dan menyanyikannya bersama. Setelah bebas, mereka masih hidup dalam trauma dan ketakutan.

Kisah Mudji dan Utati merupakan kisah para penyintas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Indonesia di tahun 1965, ketika negara melakukan kampanye besar-besaran untuk memberantas komunisme.

Pada tahun 2011, ibu-ibu lanjut usia yang merupakan penyintas atau keluarga penyintas tragedi 1965 memutuskan membentuk Paduan Suara Dialita. Mereka mengumpulkan kembali lagu-lagu yang ditulis di penjara dan lagu-lagu yang pernah populer di era 60-an tetapi kini tidak lagi dinyanyikan.

Cerita tragedi 1965 yang disembunyikan dari publik merupakan cerita tentang sebuah mesin propaganda yang mereproduksi budaya ketakutan. Tetapi Lagu untuk Anakku adalah film tentang harapan. Harapan kepada generasi muda yang dapat menyuarakan keadilan. Harapan kepada musik, yang selalu dapat menguatkan.

Lagu untuk Anakku dipresentasikan pada program Good Pitch2 Southeast Asia yang diselenggarakan oleh In-Docs dan Jia Foundation pada tahun 2017. Film ini juga terpilih ditayangkan di DMZ Docs, Korea Selatan pada akhir tahun 2019.